Menakar Modal Keterpilihan Parpol


20180807NUT15_1537538592-720x474

Spanduk besar tentang partai-partai politik yang ikut dalam Pemilu Serentak 2019 terpampang di salah satu sudut Gedung Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Selasa (7/8/2018). Sebanyak 20 parpol yang 4 diantaranya adalah partai lokal Aceh, akan bersaing agar bisa lolos dari ambang batas parlemen yang telah ditetapkan sebesar 4 persen.

Pemilu 2019 akan menjadi ujian  bagi partai politik dalam  menarik perhatian pemilih. Titik  ujian itu berada pada  seberapa kuat popularitas parpol dalam  menarik pemilihnya di tengah perhatian publik yang terbelah dengan pemilihan presiden. Parpol juga mesti   menjamin loyalitas pemilihnya untuk setia sampai pemungutan suara.

Kesetiaan pemilih jadi faktor penting bagi parpol  untuk bisa meraup dukungan di Pemilu 2019, yang untuk pertama kalinya pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden (pilpres) digelar  serentak. Pemilu serentak  membuat kerja pemilih semakin berat karena  harus  menentukan pilihan dari lima kertas suara  sekaligus. Lima kertas suara itu masing-masing adalah  untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden serta anggota DPR, DPD, DPRD tingkat provinsi, dan DPRD tingkat kota/kabupaten.

Sementara di kertas suara calon anggota DPR, misalnya, pemilih akan dihadapkan pada puluhan, bahkan ratusan, calon  dari 16 parpol di suatu daerah pemilihan.

Kondisi ini membuat kerja parpol dalam memengaruhi pemilih agar memilih parpol  atau calon anggota legislatif yang diusung parpol jadi lebih  berat.  Hasil survei Litbang Kompas  mencatat, ada dua modal keterpilihan parpol yang menyimpan potensi elektoral, yaitu  loyalitas pemilih pada parpol dan efek elektoral  pilpres. Dua hal ini akan menentukan peluang keterpilihan parpol di  pemilu mendatang.

Hasil survei terakhir mencatat, tidak semua parpol mampu melampaui syarat ambang batas parlemen untuk masuk ke DPR,   yang pada Pemilu 2019 besarnya   4 persen. Setidaknya hanya ada lima partai yang saat ini memenuhi syarat ini. Mereka adalah PDI-P (29,9 persen), Partai Gerindra (16 persen), PKB (6,3 persen), Partai Golkar (6,2 persen), dan Partai Demokrat (4,8 persen).

Di peringkat berikutnya, dengan mempertimbangkan angka simpangan survei (± 2,8 persen), diperkirakan Partai Nasdem (3,6 persen), PKS (3,3 persen), PPP (3,2 persen), PAN (2,3 persen), dan Perindo (1,5 persen) juga berpotensi mampu menembus ambang batas parlemen.

Dari lima partai yang lolos ambang batas,  jika dibandingkan dengan hasil survei April lalu,  Partai Demokrat dan Partai Gerindra mengalami kenaikan tingkat keterpilihan. Partai Demokrat naik 2 persen, sedangkan  Gerindra naik hingga  5,1 persen. Keterpilihan  PKB juga meningkat  1,4 persen. Sebaliknya, elektabilitas PDI-P turun  3,4 persen. Penurunan juga dialami  Golkar sebesar  1 persen.

Sementara itu, ada lima parpol yang elektabilitasnya kurang dari 1 persen (PBB, PKPI, Partai Garuda, PSI, dan Partai Berkarya).

Pemilih loyal

Sumber modal keterpilihan yang pertama bagi parpol adalah memiliki pemilih loyal atau  pemilih yang setia. Namun, karakter pemilih bimbang (swing voters) di Indonesia cenderung masih  tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil pemilu sejak era reformasi yang menghasilkan pemenang  yang selalu berubah. Fenomena ini juga tidak lepas dari masih relatif rendahnya identitas kepartaian di Indonesia. Hal ini juga berkontribusi pada lemahnya relasi politik antara parpol dan pemilihnya.

Namun, jika melihat  tren dari survei April lalu dan  Oktober ini, ada gejala peningkatan jumlah pemilih yang setia dan mantap pada pilihannya (strong voters). Rata-rata proporsi pemilih yang loyal dengan pilihannya ini sudah mencapai separuh dari pemilih tiap-tiap parpol.

Jika dibedah lagi dengan pertanyaan sejauh mana loyalitas pemilih parpol ini dengan loyalitas pilihannya terhadap pasangan capres dan cawapres, tampak hanya ada tiga parpol  yang proporsi pemilihnya di atas 35 persen yang sama-sama kuat loyalitas pada pilihannya, baik untuk memilih parpol  maupun dalam memilih presiden.  Ketiga parpol itu  adalah PDI-P, Partai Gerindra, dan PKB. PDI-P memiliki potensi pemilih double strong voters ini sampai 44,8 persen, disusul Gerindra 39,5 persen, dan PKB 37,7 persen.

Efek ekor jas

Modal kesetiaan terhadap pilihan parpol dan capres ini  pada akhirnya mengarah pada sumber modal kedua bagi tingkat keterpilihan parpol, yaitu  efek elektoral pilpres  atau biasa dikenal dengan  efek ekor jas (coat-tail effect).

Pendekatan efek ekor jas ini mulai dikenal sejak terpilihnya Warren Harding sebagai Presiden Amerika Serikat pada 1921. Ia menang terutama karena     karisma dan pesonanya. Bahkan,  dengan dia menyibak jasnya saja, orang akan terkesima. Dari sinilah muncul  istilah coat-tail effect atau efek ekor jas.

Dari pendekatan psikologi politik, efek ini dimaknai bahwa  semakin tinggi popularitas dan elektabilitas capres diyakini akan mendongkrak elektabilitas parpol  yang mengidentifikasikan diri dengan capres   tersebut.

Fenomena ini pernah terjadi di Indonesia. Pada Pemilu 2004, Partai Demokrat yang baru berdiri tahun 2001 berhasil jadi partai menengah dengan perolehan suara 7,4 persen. Pada  Pemilu 2009,  suaranya bahkan melonjak jadi 20,4 persen dan memenangi pemilu. Sosok Susilo Bambang Yudhoyono diyakini punya  pengaruh kuat dalam kesuksesan Partai Demokrat tersebut.  Pemilih mengasosiasikan Partai Demokrat dengan figur Yudhoyono.

Dengan Pemilu 2019 yang digelar serentak, efek ekor jas tentu menjadi pertimbangan parpol.  Di atas kertas, semakin  sukses  parpol mengidentikkan diri dengan sosok capres, pengaruh elektoralnya semakin besar.

Survei Kompas menangkap kecenderungan efek ekor jas ini lebih dirasakan oleh parpol yang selama ini lebih diasosiasikan dengan sosok capresnya. Dari kubu Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin, PDI-P menjadi parpol yang mengalami efek ekor jas ini. Kondisi ini terlihat dalam survei kali ini. Menurunnya apresiasi publik terhadap kinerja Jokowi sebagai presiden sedikit banyak juga diikuti oleh turunnya elektabilitas PDI-P. Sebaliknya, di pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin  Uno, efek ekor jas lebih terjadi di Gerindra sebagai partai yang selama ini sangat  diidentikkan dengan sosok Prabowo. Meningkatnya angka keterpilihan Prabowo berbanding lurus dengan peningkatan potensi suara Gerindra pada survei kali ini.  PKB juga berpeluang mendapatkan efek ekor jas, tetapi cenderung bersumber dari sosok Ma’ruf Amin.

Akhirnya, loyalitas pemilih dan efek ekor jas dalam pilpres  akan membuka pintu bagi keterpilihan partai di pemilu. Sekitar  enam bulan ke depan, parpol harus terus menakar dan berhitung dengan cermat. Hasil hitungan akan menentukan di posisi mana parpol berada, di  zona nyaman lolos ambang batas parlemen atau di zona lain.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>